LELAKI DAN SEBILAH KAPAK TAK TAJAM - S.JAI
lebih baik mati untuk kebebasan atau hidup bebas tetapi merasakan kematian setiap hari
JAWA POS
LELAKI DAN SEBILAH KAPAK TAK TAJAM
Oleh: S. Jai
Dalam
mengungkap identitas sebuah cerpen, tentulah kita harus mengetahui ciri maupun
hal-hal tersirat di dalamnya. Pada kasus ini, judul juga merupakan faktor
penting sebagai penuntasan misi “mengungkap identitas” yang diperlukan oleh
seorang pembaca. Pengungkapan tersebut tentu sangat perlu memperhatikan
tanda-tanda kecil yang termaktub dalam cerita.
Jai
sebagai penulis cerpen “LELAKI DAN SEBILAH KAPAK TAK TAJAM” tentulah sangat
lihai menyembunyikan tanda-tanda yang pada akhirnya dapat saya sandingkan
dengan satu kasus yang sedang terjadi baru-baru ini. Sebagai pemenang sayembara
novel DKJ pada 2012, Jai mempunyai bekal yang cukup kuat bagi seorang penulis
untuk menggiring gagasannya menjadi sebuah karya yang penuh rahasia.
Pada
cerpen kali ini, saya menemukan beberapa simbol/tanda yang terdapat pada tokoh
Samurai/Samsuri yang dikenal buruk oleh masyarakat. Seperti, tukang KDRT, munafik,
suka korupsi, pengangguran. Berbagai senjata telah dikuasai Samurai untuk membela
diri dari istri dan mertuanya. Tetapi penulis menyebutkan bahwa Samurai belum
pernah menyentuh sebuah kapak berkarat yang tempatnya tersembunyi. Kapak, dalam
wujudnya memiliki fungsi kesederhanaan bagi kaum darwis. Kapak selalu digunakan
kaum darwis sebagai pengingat, bahwa kebutuhan utama mereka adalah dalam urusan
KeTuhanan, bukan urusan duniawi.
Kapak
berkarat dalam hal ini seperti yang telah diungkap oleh penulis adalah kapak
yang sudah tidak lagi memiliki daya untuk menghancurkan sesuatu. Tetapi di
tangan menantu Samurai, kapak ini dapat menghancurkan pohon nangka yang
merupakan sarang hantu. Hantu-hantu ini memiliki beragam sifat, seperti ada
yang keras, santun, munafik, suka korupsi. Tetapi hantu takut dengan menantu,
karena dirinya membawa kapak berkarat. Tentulah kapak berkarat merupakan simbol
yang ingin disampaikan oleh penulis secara tersirat.
Simbol
lain yang lazim ditemukan dalam cerpen ini adalah tokoh anak (cucu Samurai) yang
dikenal bisu dan tuli, seperti ayahnya (menantu Samurai). Anak dalam cerita ini
dikisahkan sebagai penguntit GPK
(Gerombolan Pengacau Keimanan), anak yang selalu memberikan pengarahan kepada
ayahnya mengenai keberadaan hantu-hantu, dan dari anak pula sang ayah belajar
tentang hantu, jin, setan, dan sejenisnya. Dari sang anak, rumah dan pohon
nangka dirobohkan, hingga akhirnya sang istri mengimani untuk membangun
kembali.
Menantu
sendiri dapat dijadikan simbol. Buah kesabaran seseorang yang kemudian dalam
cerpen disebutkan bahwa dirinya “Bodoh tapi pintar, bukan pintar tapi bodoh”
tersebut dapat menjadi penyebab hantu-hantu menjadi kehilangan tempat tinggal. Menantu
yang semula selalu tunduk kepada Samurai hingga berhasil dibuat seolah-olah
bisu dan tuli olehnya, kini menjadi penguasa yang didamba-damba oleh keluarga
dengan sebuah kapak berkarat yang menggiringnya pada kesabaran dan
kesederhanaan.
Mengenal Kapak:
Mengenal GPK:

Komentar
Posting Komentar